FintalkUpdate News

Ekonomi Digital Asia Tenggara Diproyeksikan Capai USD 300 Miliar pada 2025, Indonesia Tertinggi di Kawasan

Dengan dorongan adopsi kecerdasan buatan dan layanan digital, ekonomi digital kawasan Asia Tenggara diperkirakan akan menembus USD 300 miliar pada 2025.

Sebuah laporan terbaru dari e-Conomy SEA 2025 yang dirilis oleh Google, Temasek Holdings dan Bain & Company menyebut bahwa ekonomi digital kawasan Asia Tenggara (termasuk Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam serta perluasan ke Brunei, Kamboja, Laos dan Myanmar) diproyeksikan melewati angka USD 300 miliar dalam hal Gross Merchandise Value (GMV) pada tahun 2025.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa sektor-sektor seperti e-commerce, digital financial services, online travel, food delivery dan transport berbasis aplikasi digital menjadi motor pertumbuhan utama. Misalnya, untuk tahun 2025 saja diperkirakan nilai GMV e-commerce mencapai sekitar USD 185 miliar.

Indonesia tercatat sebagai salah satu pasar digital terbesar di kawasan. Sebuah dokumen Outlook Digital Economy 2025 menyebut bahwa Indonesia memimpin sektor e-commerce di ASEAN dengan nilai GMV yang signifikan, yakni sekitar USD 65 miliar pada 2024.

Keunggulan Indonesia di sektor ini bukan hanya dari jumlah penduduk yang besar dan penetrasi internet tinggi, tetapi juga karena adopsi aplikasi mobile, digital payment, dan layanan berbasis AI yang meningkat cepat. Namun meskipun berada di posisi terdepan, Indonesia dan kawasan masih menghadapi tantangan yang cukup signifikan. Infrastruktur digital yang belum merata, regulasi yang masih harus disempurnakan, serta literasi digital pengguna dan usaha mikro di luar kota besar menjadi hambatan dalam menyelaraskan potensi tersebut.

Tantangan lainnya adalah bagaimana layanan digital bisa beralih dari sekadar transaksi ke model bisnis yang benar-benar menghasilkan pendapatan (monetisation) dan profitabilitas berkelanjutan. Laporan e-Conomy SEA menyoroti bahwa meski GMV tumbuh cepat, pertumbuhan pendapatan (revenue) dan margin keuntungan belum selalu sejalan.

Read More  Kecelakaan Kereta Api: Kelalaian dan Infrastruktur Jadi Sorotan

Bagi Indonesia, potensi ekonomi digital bukan hanya soal pengembangan industri teknologi semata, tetapi juga peluang transformasi ekonomi yang lebih inklusif. Dengan struktur ekonomi yang masih bergantung pada sektor tradisional, percepatan digitalisasi membuka jalan bagi UMKM untuk naik kelas, memperluas layanan ke luar kota besar, dan meningkatkan efisiensi produksi serta distribusi.

Namun agar potensi ini benar-benar terealisasi, ada beberapa aspek yang perlu dijaga: perluasan akses internet dan data center, pembaruan regulasi perlindungan data dan konsumen, pelatihan keterampilan digital bagi pekerja dan pelaku usaha, serta penguatan ekosistem startup dan inovasi AI. Jika Indonesia dan kawasan Asia Tenggara berhasil mengatasi hambatan-hambatan ini, maka target pertumbuhan ekonomi digital tidak hanya angka saja, tetapi bisa menjadi fondasi bagi revolusi ekonomi berikutnya.

Back to top button